Jumat, 28 Desember 2012

Merogoh Sukma (PART 1)

Keberhasilan dari mempelajari suatu ilmu bagi setiap orang dapat merupakan puncak kegembiraan tersendiri dan wajar pula timbul kebanggaan. Mengingat untuk meraih ini umumnya mesti melalui proses belajar yang penuh penggodokan diri, menempuh bermacam syarat disiplin ilmu maupun ujian-ujiannya. Begitupun bagi orang yang usai mendalami ilmu nolah batin bias muncul perasaan sama, yakni apabila ia telah melewati tahapan-tahapan menekuni pelajaran, kemudian dinyatakan tamat dan juga memperoleh manfaat dari lhasiat ilmunya. Di sini atas langkah sukses tersebut biasanya sering diartikan untuk sanggup “mrojol ing akerep, ounjul ing apapak” Dan, diantara hasil-hasil dari menekuni ilmu olah batin kelas mennegah ke atas yang terbilang tingkat tinggi, yaitu berupa kemampuan guna diamalkan bagi keperluan “merogoh sukma” (ngrogoh sukmo). Terhadap pencapaian keadaan ini ada yang menyebutnya sebagai “mati sajroning urip”. Namun suasana kegaiban yang dijumpai di dalam merogoh sukma akan saling berbeda. Hal itu karena tergantung pada golongan ilmu milik masing-masing: oknum. Makanya pesona alamm yang “dilihtanya” pun dapat member kesan atau melahirkan penilaian berlainan dan akhirnya mudah timbul debat berkepanjangan. Lebih-lebih kalau setiap pelaku menganggap bahwa pengalaman batinnyalah yang paling betul. Walau sebenarnya ketika berada dalam keadaan merogoh sukma, orang yang bersangkutan bias tidak luput dari beberapa godaan dan terpengaruh emosi pribadi. Sebab itu tidaklah heran terdapat yang mengira, penjelajahan liwat merogoh sukma sungguh-sungguh suatu penglihatan jiwa seutuhnya ke dunia halus. Modal utama bagi meraih sukses dalam menuntut ilmu olah batin berkualitas, supaya juga bias samapai pada timngkatan terbilang unggul adalah melalui penempaan batin yang intensif. Tapi untuk maksud demi mencapai jaya kewijayaan batin terdalam itu, ternyata tidak lepas dari kewajiban menjalankan berbagai seni berkonsentrasi, menekuni puasa/tapa, diselingi pantangan-pantangan, rasa ikhlas, sabar, dll. Kelak akibat pola laku batin sesuai berdasarkan petunjuk/palajaran yang diperolehnya, selain atas pertimbangan terhadap segi-segi bermanfaat bagi dirinya. Menimbulkan segelintir pelaku yang ingin trus berusaha mau konsisten pada keyakinannya itu, serta dijadikan bagian dari sikap hidup. Selanjutnya hikmah dari proses penggemblengan tadi dan telah dirasakan cukup berbobot daya unggul di batinnya atau pada diri sejatinya. Apalagi sudah terjadi kemangunggalan “zat gaib” dengan pribadinya. Memungkinkan, disaat melakukan pengamalan seorang diri atau dengan pengawasan seorang guru, pada tingkat konsentrasi sempurna bias memasuki suatu keheningan nan mendalam. Sebelum mencapai kondisi lebih jauh sudah mesti imaklumi bahwa di sini pula dengan atau tanpa sengaja di arahkan akan terjadi loncatan hebat dan halus ke dalam “ alam lain”. Dalam beberapa jenak alam baru yang terlintas terasa seakan begitu semu “audio-visual”. Akan tetapi segi yang betul di waktu dalam keadaan unsure batin lepas terkendali dan bebas untuk smentara dari aktivitas sehari-hari, yakni organ tubuh tetap bekerja normal. Malah bagi yang ilmunya sudah sempurna manunggal dengan diri pemiliknya, secraa sadar ia “ menjelajah” di alam gaib. Penjejahan kea lam baru ini hanya bias berlangsung beberapa menit dan puluhan menit saja, kemudian akan pulih kembali seperti sediakala.(bersambung >>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar