Sedangkan
maksud merogoh sukma itu sendiri memang antara lain, guna mendekati ke hal-hal
gaib, mengalaminya, “ menyatu” dengan lingkungan roh tertentu, berkelana kea
lam golongan setan, sekelebat mengetahui suasana kesejatian atau mengenal alam
kesempurnaan. Dari gambaran-gambaran yang disaksikan di sana sebagai hasil
terobosan unik setiap pelaku, kiranya tidaklah sama dan bervariasi. Hal
tersebut sebenarnya berpangkal pada landasan ilmunya, yang kemudian juga
dijadikan “sarana” guna merogoh sukma.
Sejak awal
penempaan hingga menamatkan dan mengamalkan ilmunya, setiap orang mesti
menggandalkan diri pada aku-yakin. Factor aku-yakin inilah yang dijadikan
landasan, untuk berangkat menapaki jalan dan kunci mengetahui rahasia-rahasia
ilmu kebatinan selanjutnya. Tapi masing-masing aluran ilmu kebatinan memiliki
anadalan aku-yakin saling berbeda dank has.
Sehingga
ikut menentukan corak pengalaman
setiap individu dalam merogoh sukma, dan menyebabkan pula diperoleh vision
berbeda. Adapun aku-yakin yang diandalkan ilmu-ilmu olah batin sesungguhnya
dapat terbagi dalam, yaitu aku0yakin dengan memasrahkan diri pada unsure Ilahi,
menggandalkan keunggulan pribadi atau keampuhan ilmunya, dan bersandarkan
kepada roh-roh tertentu.
Pada pemilik
ilmu dengan memasrahkan diri pada unsure Ilahi, di waktu merogoh sukma akan
diperoleh vision atau pengalaman “pengembaraan batin” di sekitar hal-hal yang
tampak serba sudah sempurna, menyenangkan dan damai. Di saat itu ia tetap sadar
penuh, dan senantiasa “otomatis” pulih kembali ke kondisi semula seusai
menyelesaikan pengembaraan.
Sementara
itu, seorang palku yang mengandalakn keunggulan pribadi atau pada keampuhan
ilmunya, akan langsung menyaksikan vision dan memperoleh kesan batin dari alam
masih bersifat sementara. Atau suasana anatara nyaris sempurna dan belum
sempurna. Di kala itu pun ditemui arwah-arwah gentayangan “jinak” dan
kadangkadang jenis roh tergolong “pemberang”. Dalam tahapan merogoh sukma,
pelakunya dapat berada pada keadaan
sadar dan yang setengah sadar.
Mengenai
orang yang melakukan merogoh sukma dengan bersandarkan pada roh-roh tertentu,
dalam pengembaraan batinya akan dijumpai suasana kepalsuan dan belum sempurna.
Selain itu ditemui sosok arwah gentayangan “jinak” dan juga yang tergolong
setan. Di waktu berlangsung pengembaran terdapat ynag bias berada dalam keadaan
setengah sadar dan tidak sadar, atau seperti orang pingsan. Tapi bukanlah suatu
kesurupan.
Secara
demikia, dari menilik landasan aku-yakin yang diandalakn termasuk pada
hasil-hasil yang dicapai dalam merogoh sukma, di luar diamalkan untuk
keprluan-keperluan lain setara dengan kemampuan masing-masing ilmu olah batin.
Akhirnya dapatlah juga guna dimengerti dan dinilai, ilmu yang dimilki seseorang
tergolong sesat, setengah tersesat ataukah lurus.*** salinan dari tulisan
dan olah batin yang dimuat di Berita Buana jumat Pahing, 25 Maret 1988.pengalaman
pribadi Pet Parmono, seorang ahli olah batin. (TAMAT.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar