Sabtu, 06 Maret 2021

TELUH (SANTET) SEKILAS PINTAS

Seakali-sekali muncul berita di surat kabar atau koran tentang adanya aksi pengeroyokan kepada seorang penduduk, bahkan juga keluarganya akibat dibakar desas desus bahwa korban keroyokan adalah tukang santet (teluh). Malahan sering dilaporkan, puncak dari main hakim sendiri mayat korban   anggota tubuhnya dimutilasi dan bahkan masing-masing potongan tubuh dikubur terpisah atau  dibakar. Dengan anggapan agar arwah si korban tidak dapat melakukan pembalasan kepada para pembunuhnya. Acapkali sesudaah peristiwa sadis berlalu barulah diketahui bahwa ternyata korban cuma seorang warga desa biasa yang dikambing-hitamkan sebagai tukang santet. Dan maksud pembunuhan itu sebenarnya bermotifkan dendam ataupun karena iri pihak lainnya belaka.

Akan tetapi, kalaupun ada kejadian kematian  yang diisukan akibat teluh,  kecanggihan perlengkapan modern laboratorium kiranya tertantang untuk ikut coba membuktikan kebenarannya..

MENGAPA MENELUH 

Kasus seperti yang tersebut di atas bagi dukun telu akhirnya makin terdorong untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pertahanan diri dengan ngelmu ghaibnya.. Sehingga dia tetap eksis dengan prakteknya dan pada gilirannya masih ada orang yang menjadi sasaran "tembakan rudal santetnya". Di bumi Nusantara ini pada jaman now dengan kemajuan teknologi digital, masih terdengar sayup-sayup peritiwa orang kena santet (teluh), termasuk di kota besar. Menekuni ngelmu santet  sebagai bagian dari ilmu hitam biasanya harus dilakoni dengan berat seperti puasa, mati raga, bersemedi di tempat angker, pantang makan makanan tertentu, atau harus memakan makanan yang tidak lumrah dan menjijikkan menurut orang normal, seperti makan organ tertentu mayat manusia atau binatang.

Agaknya menyantet dinilai cocok untuk tujuan "pemberesan" yang sesuai dengan watak masyarakat bila menyelesaikan permasalahan dengan halus, tanpa sosok fisik langsung berhadapan dengan lawannya. Tetapi ada juga pendapat meneluh bukan merupakan tindakan "gentleman". 

"Pasien" yang mendatangi juru santet kiranya bisa dibagi dua. Yaitu, mereka yang sudah mengetahui persis kemampuan si tukang santet dan lainnya adalah orang yang ingin cari penanagan masalah seperti rumah tangga atau ingin mencari juru sembuh untuk pengobatan alternatif karena tidak memahami dunia keparanormalan yang non tukang santet.

Sementara itu bagi orang yang sampai menuntut ilmu hitam terbagi pula dalam orang yang sengaja berguru ilmu santet dan yang tidak sengaja berguru ilmu hitam tersebut.  Bagi yang tidak sengaja berguru dan mempelajari ilmu hitam, dikarenakan tidak mengetahui jenis ilmu milik calon gurunya. Biasanya seorang guru ilmu hitam hanya tersamar membeberkan khasiat ilmunya. Bila sudah lulus, murid yang pada dasarnya tidak memiliki sifat beringas, begitu sadar dikemudian hari akan berangsur-angsur menyngkirkan ilmunya dan sengaja melanggar pantangan ilmu.

Sebaliknya seorang murida yang sudah miliki bawaan kejam, kepada gurunya pun akan "dikerjai" untuk mengetest keampuhan ilmunya, bahkan bisa supaya tidak ada saingan. Karena itu seorang guru yang waspada tidak akan tergesa-gesa menurunkan seluruh rahasia ilmunya, sampai ia tahu tabiat muridnya. Seorang pengamal sejati ilmu hitam, akibat telah manunggalnya zat syaitani di dalam dirinya menyebabkan ia bersifat "eksplosif". Tanpa ada pasien pemesan pun akan mencari sasaran tembak santetnya, termasuk kepada kerabatnya sendiri yang tidak disukai, sekalian untuk tetap menjaga power ilmunya.

SANTET PADA UMUMNYA

Lazimnya pelaku ilmu kuno dalam mempraktekkan kekuatan gaib hitamnya dipilih malam hari, begitu juga pengangkatan calon murid ditentukan pada malam yang dianggap keramat. Dipilih malam hari,karena suasana tenang dan sepi hingga menjelang subuh dianggap membantu usaha memusatkan konsentrasi dan mengerahkan mahluk halus untuk dapat bersekutu. Malam hari juga dipilih untuk memudahkan aksi "menyerang" kepada sasaran pilihannya atau yang dianggap lawan, karena obyek sasaran sedang dalam keadaan lemah ketika tertidur dan terlena diperaduannya.

Apabila serangan gagal maka akan diulangi lagi, paling sial sampai 40 hari. Setelah 40 hari tidak ada reaksi menunjukkan lawannya "terlindung" kuat. Proses mengerahkan powernya  walau telah terlatih sangat mengandalkan kerjasama dengan mahluk syaitani dan golongan jin. Efek kerjasama itu setelah dibacakan mantra timbul semacam energi yang sekejap berwujud seperti zat sebesar biji jagung bahkan ada yang sebesar bola tenis menyala-nyala.

Wujud  bola menyala tersebut tanpa suara atau ada yang berdesis bahkan ada yang bergemuruh, tergantung energi sayaitannya, akan selekasnya melesat menembus gelap malam, terbang kearah sasaran terpilih di kejauhan. Kadang-kadang bola telah/santet  jika pengirimnya sudah tergolong tingkat atas dan mahluk jinnya dahsyat maka akan terlihat bagai bola menyala yang berekor api. Pada malam gelap itu masyarakat awam di pedesaan sering mengira menyaksikan "ndaru".

Begitu tiba di rumah sasaran orang yang dituju acapkali terdengar seperti suara ledakan mercon/petasan ukuran cabe rawit atau bersuara lebih keras dari ukuran mercon cabe. Selain itu ada berupa tanda seperti suara guyuran pasir di atap rumah, atau seperti suara ban dalam kempes. Korban sasarannya , biasanya mendadak terasa merinding, atau menggigil bagai kena demam. Keadaan si penderita kiranya nihil diobati secara medis, apalagi bila juru santetnya levelnya kelas atas dan jin yang dimanfaatkan tergolong galak maka karyanya juga ganas. Terbilang disaat itu juga korban bisa "liwat", atau kalau mujur bisa bertahan beberapa hari. Hanya ahli kebatinan berkelas, bukan dukun sihir, yang bisa membantu menyembuhkan korban dari sasaran santet sekaligus menangkal daqri serangan santet sususlan.

Tetapi ada juga seni semacam santet berupa pengiriman benda tajam dengan bantuan syaiton kepada sasarannya. Cara "pengiriman" benda tajam bisa dengan menggunakan keris "berisi". Dalam prakteknya keris diletakkan dalam wadah (paso) dari tanah liat yang sudah berisi sesaji kembang campur air. Usai juru santet merapalkan bait mantra, keris diperintah untuk pergi menyerang Tn X. Kalau gagal dan tidak membawa darah, keris dilarang kembali pulang, jadi harus sampai berhasil membawa darah baru boleh pulang. Penduduk di desa yang memergoki keris terbang itu  kelihatan  sampai ekornya bernyala,  mengira sedang menyaksikan keris "tiban". Padahal keris dengan misi membunuh.

Apabila Tn X "terlindung baik" , keris segera saja mencari anggota keluarganya yang tak berpelindung. Sedangkan kalau seisi rumah dilindungi "pagar gaib", tetangga yang apes bisa terkena hantaman keris "nyasar". Sebaliknya jika tidak berhasil merenggut darah korban, maka keris yang berkobar-kobar akan berputar mengelilingi rumah sasaran sambil menjauh, kemudian menghilang dan tidak kembali kepada pengirimnya.

Dalam pada itu, walaupun sekarang ini menyerang seperti cara tersebut sudah jarang ditempuh, terutama di kota metropolitan. Tapi jika pada suatu hari maut dapat menimpa tepat korbannya, juru santet alias teluh akan merasa senang dan pemesannya pun diam-diam menikmati dengan bangga. Sedangkan mereka, si pemesan seringkali tercatat sebagai warga terhormat di lingkungan tempat tinggalnya. ****



Artikel pernah dimuat di koran harian BERITA BUANA, Jumat Kliwon, 21 Agustus 1987.


Catatan : Artikel sedikit direvisi oleh penulis.

Kamis, 25 Februari 2021

KERIS PUSAKA DAN TOMBAK DENGAN "ISI" BERDERAJAT TINGGI UMUMNYA "PEMILIH"

KERIS PUSAKA,ATAU DHUWUNG ATAU CURIGO, senantiasa tetap terasa menarik untuk dipaparkan, dibahas berulang-ulang hingga diterbitkan dalam bentuk buku, baik ditulis oleh bangsa sendiri maupun asing, juga dibuatkan video dengan narasi menarik. Menurut istilah sekarang, "tidak ada matinya", tidak lekang oleh kemajuan jaman. Tidak heran ada perkumpulan dan kolektor penggemar keris. Lebih lagi bila pembicaraan dikaitkan dengan aspek kegaiban dan mistis yang dikandung dari sebilah keris. Unsur gaib itu sesungguhnya, kareana sengaja "diisi" roh (qadam, bisa juga dari bangsa jin) oleh Empu pembuatnya ketika dalam proses penyempurnaan untuk menjadi keris pusaka.

Pertimbangan adanya segi mahluk halus pada pusaka bebentuk senjata tajam - sama halnya dengan tombak dan pedang - menjadi sebab dimasukkan dalam istilah Tosan Aji atau besi bertuah. Lalu perawatannya juga harus istimewa. Perawatan istimewa dimaksud guna menjaga keawetan wilahan keris, di samping juga meneruskan anggapan untuk memelihara kharisma gaib yang terkandung pada pusaka. Namun qadam yang "dimasukkan" oleh Empu pembuatnya ada yang bertabiat "memilih" terhadap calon pemiliknya. 

Dalam pada itu mengenai kapan kelahiran keris di tanah Jawa nampaknya masih simpang ssiur. Ada yang meperkirakan mulai dikenal sesudah abad ke 10 (Drs. Hamzuri, 1973). Lalu ada yang menduga keris telah dikenal sejak 1342 (Garret and Bronwen Solyom, 1978).. Kemudian pada sekitar abad 14 ketika kerajaan Mojopahit mencapai puncak kejayaan, keris menyebar ke luar pula Jawa seperti Madura, Bali, beberapa daerah di Sumatera dan Sulawesi. Malahan penyebaran keris sampai pula ke Malaysia dan Philipina sebelah selatan. Akan tetapi pendapat lain menyatakan, bahwa keris sebenarnya sudah muncul sebelum itu, yakni mulai sekitar tahun 230-an dan terkenal dengan ahli pembuat keris Empu Ramadi (Ramayadi) (Moebirman, Keris and Other Weapons of Indonesia, 1973). Ketika belum diketahui persis soal kelahiran keris, akibat belum diketemukannya bukti-bukti kuat, ternyata banyak dijumpai berbagai versi cerita tutur dan tertulis yang sarat dengan tema irasionil berbumbu keunikan.

KEUNGGULAN EMPU

 Dari mengamati keris-keris karya Empu dapat menunjukkan bahwa pembuatnya memiliki ketrampilan metalurgi sekaligus merupakan seorang seniman dan ahli kebatinan. Buah karya mereka rata-rata  amat bermutu baik terlihat dari teknik penguasaan logam dan dalam cita rasa membentuk wilahan beserta bagian-bagiannya, seperti pamor dan dhapur keris. Kemudian disearasikan dengan wrangka dan pendhoknya.

Kemampuan Empu "mengisi" keris dengan roh atau arwah (Khadam) diperkirakan mulai pra Kerajaan Mojopahit. Kemudian kemampuan menaklukkan dan "mengisi" mahluk halus ke wilahan keris (juga tombak) berlanjut sampai ke jaman Kesultanan Mataram Islam dan kerajaan pecahan setelah Mataram.

Seni memperindah wilahan keris kiranya banyak dijumpai di masa Mataram, berbeda dengan karya di masa Mojopahit yang lebih menekankan pada mutu tuah keris. Untuk itu seorang Empu selain mumpuni dalam teknik pencampuran logam, juga mesti mengolah bathin agar memiliki daya unggul menjinakkan bahkan menguasai mahluk halus, lalu disemayamkan di wilahan keris. Sudah tentu untuk memelihara daya unggul dan kepekaan atas mahluk halus, Empu mesti menjalankan beberapa pantangan, lelaku puasa dan meditasi. Mahluk halus yang berhasil ditaklukkan Empu lalu "diprogram" biasanya sesuai makna dari motif pamor. Perihal pamor di samping merupakan hiasan pada wilahan keris, juga bermakna khasiat "isi" keris. Biasanya bisa atas keinginan pemesan atau berdasarkan "wisik" alias petunjuk gaib.

"MEMILIH"

Wilahan keris agar tampak sangar, maka di dhapurnya ada yang dibuatkan rupa singa, mahluk khayalan seperti naga dan lainnya. Tetapi keangkeran sebuah keris pusaka tergantung pada tabiat, derajat atau kharisma mahluk halus yang menghuni di dalamnya. Bila watak dan derajatnya tergolong menengah ke bawaah, kebanyakan akan bersikap pasif dan tidak bisa membuat tanda-tanda ingin pindah meskipun tidak sesuai dengan tabiat pemiliknya. Sedangkan yang termasuk kelas menegah ke atas atau tingkat tinggi biasanya bisa aktif "memilih", bahkan menentukan bakal pemegangnya.

Adapun maksud ikut aktif menentukan pilihan dapat disebabkan antara lain, untuk memilih orang yang coccok, atau akibat tidak betah lagi dengan pemilik keris lama. Hal ini bisa kareana keris tidak dirawat semestinya, pemiliknya kurang suka, pemiliknya tidak aktif menjalankan lelaku untuk memelihara kepekaan bathin. Pada keadaan begitu  Pusaka walaupun masih berada di tangan pemilik, tuahnya akan pasif.. Isi pusaka yang tidak lagi cocok dengan pemiliknya bisa  menempuh cara halus seperti permohonan ganti pemegang liwat mimpi. 

Namun ada yang bersikap ekstrim seperti menteror rumah tangga pemilik berupa membikin keributan tanpa pemiliknya menyadari. Selain itu ada yang membikin sakit salah satu penghuni rumah, atau sering menggedor-gedor tempat penyimpanan pusaka atau menggerak-gerkkan warangkanya terus menerus, atau menampakkan wujudnya ke anggota keluarga. Isi keris bertabiat galak akan merasuki salah satu anggota keluarga, hingga terjadi kasus kerasukan "isi" pusaka.

KONSULTASI 

"Isi" keris oleh Empu pembuatnya sudah diwejang untuk mendampingi pemiliknya tidaklah bisa dianggap sekedar gaman. Karenanya untuk memahami sebilah keris "berisi" seyogyanya melakukan konsultasi kepada pihak yang mengerti masalah karakter "isi" pusaka. Mencocokkan liwat pamor keris pusaka berdasarkan primbon atau petangan dapat menyesatkan, selain mengarah kepada tahayul. Selanjutnya pusaka "berisi" itu tidak bisa digolongkan sekedar seperti souvenir pajangan.

Sementara itu dalam upaya mencari konsultan wesi aji, hendaknya menghindari menggunakan jasa orang yang hanya pintar memperlihatkan semacam "show" secara kekuatan sihir, berupa mendirikan keris pada pucukannya. Karena untuk atraksi seperti itu, pisau dapur yang "kosong" juga bisa didirikan dengan taktik serupa. Sedangkan mereka belum tentu paham masalah perkerisan.

Kendati begitu, seorang pemilik keris setelah mengetahui "isi" pusakanya cocok dengan dirinya, segi yang tertuntut adalah cukup merawat secara tepat untuk menjaga keutuhannya demi memelihara keawetan wilahannya. Sejalan dengan itu, tetap berusaha menghindari langkah yang dapat menjurus kepada menjimatkan pusaka (fetitisme). Antara lain menghidangkan sesaji (sajen), "dimandikan" dengan air kembang dan diasapi kemenyan atau dupa tanpa dibersihkan lagi dengan teknik yang benar. Mengingat tindakan tersebut selain keliru, juga bisa menimbukan karat yang pada gilirannya merusak wilahan keris. ***


(Tulisan ini pernah dimuat di koran harian BERITA BUANA, Jumat Kliwon, 30 Oktober 1987)

Caatatan: artikel disajikan ulang dengan sedikit revisi dari penulis.

Rabu, 25 Mei 2016

KERIS SEBAGAI JIMAT

   WUJUD senjata tikam warisan masyarakat masa lampau dengan sebutan Keris alias Dhuwung, dan dinamakan juga Curigo oleh masyarakat di kepulauan Nusantara , khususnya di kalangan orang Jawa dianggap sebagai benda pusaka yang penanganan dan perawatannya perlu melewati cara-cara istimewa. Karena itu pula dimasukanlah keris dalam kelompok " tosan aji " alias besi betuah.

   Menyangkut teknik pembuatannya oleh ahlinya yang disebut Empu, hingga kini masih terbatas diketahui cara penggarapannya. Hal ini antara lain disebabkan pengetahuan perkerisan bersifat turun temurun dan tidak ada pedoman tertulis yang diwariskan para Empu. Makanya pembahasan tentang keris yang diketahui kebanyakan berkisah tentang "kegaibannya". Kisah daya gaib pada keris itu pun dari jaman ke jaman berikutnya berbeda pula kadar kegaibannya.

   Menurut Drs. Hamzuri (Petunjuk Singkat Tentang Keris, 1973) keadaan seperti tersebut di atas merupakan faktor yang menambah sukarnya pembuktian, dan baru sedikit yang bisa dipercaya dari hasil pengunkapan peneliti. Serba kerahasiaan itu kiranya tidak saja meliputi cara membuat keris, melainkan juga mengenai kapan mulai dikenal Keris.

   Ada dugaan, berdasarkan pada relief dan arca di candi dari jaman Hindu dan Budha di Jawa Tengah menunjukkan keris barulah lahir pada abad ke-10. Selain itu juga dikenal berdasarkan kisah  sejarah tentang keris pesanan Ken Arok  kepada Empu Gandrring di Jawa Timur. Keris yang belum rampung dikerjakan sang Empu digunakan untuk membunuh Akuwu Tunggul Ametung  dari Tumapel. Tak lama setelah melakukan pembunuhan, Ken Arok mendirikan kerajaan Singosari.

Dikeramatkan

   Kemampuan bertahan menghdapi jaman karena dibuat secara teknik penempaan tertentu dan dari bahan logam pilihan, akhinrnya keris dapat bertahan, tidak mudah karat atau korosi, tapi bisa awet bilahannya apalagi bila ditangani dengan cara perwatan yang benar. Keris di masa modern akhirnya diakui sebagi bukti maju nenek moyang yang sudah menguasai teknik mencampur logam, untuk dijadikan keris bernilai tinggi, dan sudah memahami tentang bermacam berat jenis logam.

   Selain itu para Empu sudah hebat pengetahuan metalurginya, untuk menentukan titik lebur masing-masing logam yang berbeda-beda, seperti pada meteorit, besi dengan baja, nikel, tembaga, bahkan juga titanium, hanya berdasarkan pada pengalaman dan ketrampilan sederhana menentukan perangai logam.

   Teknik sederhana yang diterapkan berupa "ditinting" (dipukul-pukul untuk didengar pantulan suaranya), diraba, dicium baunya, dilamat atau dicari pengaruh sugestinya. Karena masing-masing jenis logam dianggap berdaya pengaruh berlainan. Begitupun pada taraf selanjutnya, kandungan unsur "gaib" yang bakal terisi, sangat tergatung pada kemampun masing-masing Empu.

   Sampai kini diyakini, setiap empu sebelum mulai menggarap bilahan keris, mesti membersih  diri (melakukan sesuci)  lahir-bathin  antara lain dengan bertapa dan semedi. Setelah mendapatkan ilham untuk mengawali pembuatan, biasanya Empu juga memiih hari baik agar daya gaib pada keris garapannya bisa tepat dan ampuh. Mengingat pada proses pembuatannya tersebut, menyebabkan perawatan keris juga harus  dengan perlakuan khusus. Empu dalam bekerja membuat keris biasanya dibantu juga oleh beberapa calon Empu.

   "Dhapur" keris bila sudah terbentuk, ada yang menganggap sudah "jadi" meskipun penampilan "wilahannya" masih sederhana dan belum sempurna. Karenanya sudah ada yang memberi nama selaras jenis dhapurnya, baik pada keris berbentuk "luk" (berkelok) maupun lurus. Umpamanya terhadap penamaan keris Dhapur Sabuk Inten pesanan Sunan Kalijaga, pada masa kerajaan Demak kepada Empu Joko Supo, guna tumbal kekuatan kerajaan. Selain itu ada juga pemberian nama berdasarkan "pamornya", yaitu berdasarkan corak lukisan yang terapat paada wilahan keris. Namun dijumpai pula pemberian nama keris sesuai peristiwa penting yang berhubungan dengan saat dibuatnya keris, misalnya keris Kyai Lawang.

Bukan Sekedar Senjata

   Dari proses pembuatan keris hingga sampai pada taraf "pengisian gaib", akhirnya terlihat mengarah pada  mengutamakan  kekhasan kharisma isinya yang disebut "tanjeg". Karena itu tidaklah heran , keris pada tempo dulu amat mementingkaan mutu tanjeg, belum pada pemikiran memproduksi keris secara massal apalagi untuk tujuan yang bisa disamakan dengan barang komersial.

   Mengutamakan keris pada khasiat tanjeg, di samping sebagai senjata "piandel" kiranya menyebabkan keris ditempatkan melebihi kedudukan sebagai "jimat". Apalagi model pamornya yang bukan sekedar hiasan, juga bermakna penting dalam kehidupan sosial di masyarakat dan memberi sugesti tersendiri bagi pemiliknya.

   Untuk menjaga dan menambahi daya ampuh yang disandang pada keris pusaka, maka perawatannya berupa membersihkan atau disebut "menjamasi" perlu dilakukan pada hari atau bulan terntentu, seperti pada bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Namun untuk keris Dhapur Sabuk Inten diyakini, hari baik perawatannya pada hari Minggu Kliwon. Sedangkan keris yang dirawat dengan pantangan-pantangan aneh seperti keris buatan Empu Pangeran Sandang. Pantangannya antara lain, tidak boleh diminyaki, dicuci, diganti wrangka, diganti wukirannya dan dilarang dirawat pada hari Senin Legi.

   Dengan melihat pada proses pembuatan keris yang tidak sembarangan, pusaka "berisi" tersebut seyogyanya dimiliki oleh orang yang memahami cara perawatannya. Karena memiliki keris pusaka bukan sekedar menyimpan barang antik biasa. Untuk memiliki keris pusaka hendaknya berkonsultasi dulu pada yang ahli dan mendalami betul soal perkerisan, untuk bisa membatu menentukan keaslian keris hasil karya Empu sakti  atau bukan buatan Empu.  *****

(Artikel ini pernah dimuat penulis di Harian "BERITA BUANA", Sabtu Kliwon, 13 April  1983)

Kamis, 09 Juli 2015

AYO JADI PEMBENCI SETAN SANG MAHLUK SIALAN

   SETAN, apapun sebutannya atau julukannya seperti gendruwo, jin, siluman, kuntilanak, tuyul, wewe, buto ijo, pocong, demit, jurik, tetaplah mahluk tergolong setan. Masing-masing daerah di bumi Nusantara punya sebutan sendiri pada golongan setan - si mahluk sialan - mahluk rendah, mahluk berengsek.

   Setan hanya takut kepada orang beriman, yang beriman sepenuhnya kepada Tuhan Allah. Karena jiwa orang beriman yang hanya percaya dan pasrah sepenuh jiwa pada kebesaran Tuhan, sebenarnya dari tubuhnya akan memancarkan cahaya Illahi. Pancaran cahaya Illahi karena keimanan seseorang pada Allah juga dapat dilihat oleh setan dan dirasakan wibawa auranya. Selain itu dapat pula "dilihat" oleh manusia yang punya indera ke enam. Tanda atau bukti bahwa seseorang beriman tidaklah terlihat dengan bentuk atribut-atribut atau berupa simbol tertentu yang dikenakannya. Sedangkan setan sendiri juga tidak takut pada sekedar berbagai bentuk fisik dan aneka simbol ataupun atribut, yang dikira oleh orang pemakainya adalah bagian dari keimanan yang bakal dapat menakuti malahan disangka bisa mengusir setan. Dampaknya malahan cuma menguntungkan pelaku bisnis penjual atribut-atribut dan bermacam simbol yang terlanjur diyakini bermanfaat untuk anti setan. Keadaan demikian cenderung bisa menyesatkan. Dalam bisnis perangkat yang didengungkan sebagai bagian penting dari orang beriman, justru juga dimanfaatkan oleh kalangan yang mengaku spiritual dan paranormal untuk aksi cari pengikut atau massa.

   Bagi orang yang merasa beriman mestinya mencoba melakukan test ketahanan imannya, dengan melakukan uji nyali mendatangi tempat yang dikenal angker atau di lokasi dianggap oleh warga setempat ada yang "bhaurekso", dan banyak mahluk sialannya seperti di kuburan yang dikeramatkan , pohon besar sudah tua , goa wingit, kedung sungai, ngarai atau hutan yang masih gung liwang liwung. Cara ini aksi lebih santun terlebih bila dilakukan tanpa pamer dan cari pujian, ketimbang gembar-gembor ke khalayak secara demontratif, termasuk liwat media seakan-akan dirinya sudah paling beriman.

   Dalam uji nyali tidak perlu berjamaah, jadi datang sendiri saja dan pilih di malam hari yang dianggap keramat dan tabu oleh penduduk lokal. Di tempat itu cukup berpenampilan biasa saja dan normal, tidak perlu bergaya seperti paranormal atau tokoh spiritual. Kalau selama uji nyali alias uji ketahanan iman tidak dapat gangguan apapun, tidak muncul penampakkan aneh-aneh, tidak mendengar suara menakutkan bikin merinding, tidak ditimpuki setan, tidak dicolek bahkan tidak kesurupan, berarti keimanan seseorang tampak nyata dalam dirinya dan di mata setan.

   Selama uji nyali - uji keimanan - tidak perlu repot-repot membaca macam-macam ayat, doa atau mantra apalagi dengan suara keras atau membawa perangkat perlengkapan berdoa. Hafal ayat-ayat bisa juga dilakukan oleh orang atheis. Menghafal ayat yang tidak dilambari rasa percaya dan yakin cuma sampai tersangkut diotak, namun tidak sampai merasuki di batinnya. Keimnanan seseorang yang sudah "loro-loro ning atunggal" yaitu manunggalnya zat Ilahi  dalam diri seseorang, jika berada di sarang setan, maka setan pun akan menyingkir tanpa perlu repot-repot merapal doa atau membaca berbagai ayat untuk menyingkirkan seran. Pancaran cahaya keimanan dari jauh sudah terlihat oleh setan dan golongan mahluk rendah, efeknya pula kemampuan sihir si setan akan lumpuh.

   Mereka yang mengaku paranormal tapi masih bisa dibentak setan, ditantang duel, ditarik setan sampai ia juga jadi kesurupan, walau akhirnya bisa mengeluarkan dhemit yang merasuk ke tubuhnya, menunjukkan keimanannya masih belum manunggal dengan zat Ilahi. Untuk di acara tontonan di Film, sinetron atau TV memang tampak seru dan menarik yang diselingi gaya bersilat, tapi di lain hal menunjukkan kelemahan pertahanan keimanannya. Tanpa disadari, malahan aksinya seperti mengajak penonton untuk suatu saat bila berada di tempat angker agar hormat dan memberi salam kepada setan, karena dia sebagai paranormal saja yang sudah merasa mumpuni melebihi orang biasa  masih mengucapkan salam kepada setan sialan. Parahnya ada yang katanya paranormal sakti masih menghaturkan sesaji kepada mahluk-mahluk sialan , dan jalankan ritual atau melakukan prosesi memenuhi persyaratan lain seraya harus bersikap hormat menyembah ke sang setan, jin atau siluman berengsek.

                                                                    ***
   BAGI orang beriman kepada Tuhan Allah, pantang mengucap salam atau berkata "permisi" kepada setan-setan yang bersarang di rumah kosong, gedung tua, di kuburan angker, di pohon-pohon besar yang sudah tua, di dalam goa, di hutan yang masih gung liwang liwung, di gunung, di bukit, di sungai atau di laut. Mahluk rendah itu sebenarnya tidak pantas menempati ruang lingkup hidup manusia, sekalipun di sebutir pasir. Disayangkan ada acara tontonan di TV swasta yang menampilkan orang yang disebut tokoh spiritual atau paranormal dan didampingi bintang tamu artis, mengucapkan salam atau "permisi" disaat berada di tempat angker alias wingit. Aksi tersebut secara sengaja ataupun tidak sengaja, seperti mengajak penonton di rumah untuk meniru ikut mengucapkan salam atau permisi kepada setan, si mahluk sialan, bila berada ditempat yang dirasa angker

   Mengaku atau merasa sudah beriman, tetapi begitu berada di sarang setan masih mengucap salam atau permisi bahkan berkata "numpang-numpang", berarti dia sudah meremehkan eksistensi Tuhan Allah Yang Maha Kuasa atas semesta alam, selain itu jelas menunjukkan kerapuhan batinnya. Sedangkan orang yang percaya pada setan, tergolong bejad jiwanya, begitu juga yang mengandalkan bantuan setan lalu memujanya (seperti yang melakoni pesugihan, ngepet). Memang ada orang yang merasa takut berkepanjangan, sehingga akhirnya bersedia "berdamai" dan memberi hormat berupa menghaturkan sesaji/sajen, ube rampe, hingga korban sebagai tumbal/wadal, lalu mengikuti petuah atau larangan yang dipersyaratkan setan. Selanjutnya bersedia memuja dengan takjim.  Hal ini berarti telah memerosotkan keluhuran dan derajat jiwa sendiri yang akhirnya menjadi lebih rendah daripada setan.

   Nampak konyol pula, orang yang mengaku beriman apabila bicara menyangkut soal setan masih mengatakan : "percaya nggak percaya" pada mahluk sialan tersebut. Setan memang ada, tetapi bagi orang beriman tidak akan mengakui keberadaannya dan tidak mempercayai eksistensinya. Iblis sang master setan sudah pengalaman ribuan tahun di bidang penyesatan iman, sehingga mampu membuat orang yang kosong imannya atau peragu kian menjauhi Tuhan. Orang yang demikian kemudian akhirnya jatuh keasyikan menjadi pengikut iblis, melalui aksi anak buahnya yaitu para siluman, jin, jurik, dan bangsa dhedemit berengsek lainnya.

   Mahluk sialan tersebut dari abad ke abad sudah canggih untuk mempengaruhi orang kosong iman dan yang masih tanggung nilai keimanannya. Jin/ siluman bisa sanggup nampak mempesona mereka, misalnya liwat wujud wanita cantik berpenampilan bagai ratu. Padahal sebenarnya hanya jin siluman berwujud ular raksasa berwarna kehijauan yang berkepala manusia. Karena merasa takjub dan tidak berdaya (akibat tidak beriman), maka muncul mitos sesat yang berkembang tentang mahluk sialan tersebut. Kemudian menjadi mudah termakan oleh pendapat orang lain yang berkategori juga peragu imannya dan hampa batinnya. Malahan akhirnya jin siluman sialan itu dipuja dan disajeni rutin agar tidak diganggu atau dicabut bantuan syaitaninya dalam urusan duniawi, seperti mendapatkan kekayaan dengan cara mudah, atau pamgkat bahkan pelaris usaha.

   Parahnya, untuk bukti hormat dan bakti pada mahluk berengsek dilakukan pula kelengkapan ritual pemujaan atau penghormatan, lalu digabung dengan adat kebiasaan setempat lainnya. Seakan-akan tindakan tersebut bagian dari adat istiadat leluhur atau kelengkapan suatu budaya. Demi rasa hormat dan takluk tersebut, "sosok" itu pun dipanggil dengan panggilan dan gelar kehormatan, di antaranya diberi sebutan: "Kanjeng Ratu" "Ni atau Nyai", "Bunda Ratu", atau "Gusti Ratu". Agaknya setan juga haus dihormati alias gila hormat. Di tempat angker lain ada mahluk sialan yang juga diberi panggilan hormat seperti Den Bagus, Dhanyang, Kanjeng Pangeran, Sang Prabu atau Datuk.

    Padahal Tuhan Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa bersedia disebut dengan namaNya saja, walau jelas harus dengan rasa hormat. Bahkan ketika menyebut namaNya tidak perlu memakai tambahan sebutan kehormatan seperti "Kanjeng", "Gusti", "Pangeran" atau "Paduka". Inilah bukti jelas bahwa Tuhan Allah adalah Maha Pemurah, Maha Pengasih, sehingga bersedia disebut namaNya saja agar terasa diriNya dekat bagi yang sepenuh hati dan ihklas hanya mempercayaiNya dengan keteguhan iman.
                                
                                                                 ***

  MENURUT saya pribadi, tidak percaya bahwa setiap rumah ada penghuni lainnya alias mahluk halus sejauh memang tidak diundang yang empunya rumah. Golongan setan tahu rumah orang beriman yang senantiasa berdoa untuk keselamatan diri, keluarga dan rumahnya akan melihat pancaran /aura sinar Illahi yang dapat menolak dan membuat "silau" ketika melihat rumah dan penghuninya yang hanya memasrahkan diri dalam lindungan Tuhan Allah.

   Jelas segala jenis setan tidak bisa menumpang  tinggal atau bersarang di dalam rumah dari orang yang beriman, apalagi sampai kurang ajar mengganggu penghuni rumah. Setan atau arwah gentayangan atau mahluk halus yang penasaran, pasti takut pada pancaran bathin dari pemilik rumah yang keimanannya sudah "loro-loro ning atunggal", atau manunggal dirinya dengan zat Illahi seperti tersebut di atas. Malahan serangan dukun santet pun tidak bisa mengenainya, karena dukun santet alias teluh bermitra dengan mahkluk jenis setan untuk melancarkan aksi jahatnya. Jadi jelas, setan bahkan raja/ratu jin apalagi setan kerdil alias tuyul bukan takut atau merasa tak berdaya karena faktor jimat-jimat, atribut termasuk model busana tertentu, simbol-simbol atau rajah yang dikenakan ditubuh atau sengaja terpasang di dalam rumah seseorang. ***

Jumat, 10 April 2015

DEMAM AKIK SETELAH GELOMBANG CINTA




                                          DEMAM AKIK 
                       SETELAH GELOMBANG CINTA


    Akhir-akhir ini sebagian masyarakat kita menggemari batu akik, jenis batu permata khas lokal. Agaknya hal ini dipicu ketika mereka melihat pembesar Indonesia menggunakan cincin batu lokal dari daerah Maluku yang dikenal sebagai Batu Bacan. Biasa masyarakat kita sering mudah terjangkit penyakit latah dan cepat meniru sesuatu yang digemari seorang pemimpin nomor satu alias kepala negara. Sebelumnya masyarakat menghargai tinggi jenis tanaman yang disebut "gelombang cinta", setelah masa ketenarannya menyurut, muncul kegemaran baru masyarakat pada jenis batuan mulia. Bisa jadi menggemari tanaman gelombang cinta mesti perlu perhatian ekstra seperti memperhatikan keadaan tanahnya, cukup sinar matahari dan ada pemupukan. Sedangkan batu bisa langsung dipakai ikut mejeng oleh pemiliknya dan tidak perlu ada perawatan khusus.
   Tanaman Gelombang Cinta masuk genus Anthurium dari keluarga keladi Araceae berasal dari Amerika Selatan seperti Peru, Bolivia dan Barazil. Antharium Plowmanii merupakan tanaman hias yang sekarang dijual dengan nilai puluhan ribu saja, padahal waktu booming bisa dihargai  jutaan rupiah.

   Wabah latah berjualan batu akik terlihat mulai dari tingkat pedagang kelas trotoar di pinggir jalan sampai ke pedagang batu permata di pertokoan berkelas yang dagangannya dipajang di balik etelase. Keadaan ini membuat pedagang kelontong atau pedagang cita seperti di Kota Bumi, Tangerang ada yang juga menggelar lapak tambahan, khusus menjual batu akik dari berbagai daerah di Indonesia. Antara lain, di luar asal batu yang booming dari Maluku, terbanyak batu permata dari Sumaatera Barat seperti Sungai Dareh, batu giok Aceh,  Batu Raja Sumtera Selatan atau Biru Langit dari Lampung, panca warna dari Garut maupun wilayah pulau Jawa lain.  

   Harga batu akik dipicu meroketnya ketenaran Batu Bacan yang nilainya sampai jutaan, bahkan yang bening mengkristal sebesar telur angsa bisa dihargai ratusan juta rupiah. Tidak heran batuan lokal lain pun terkena efek sehingga harganya menjadi berkisar  ratusan ribu dan jutaan rupiah. Melihat pada potensi nilai ekonomi batu akik, hampir semua daerah di Nusantara mengangkat batu akik lokalnya ke jajaran batu permata berkelas, padahal dulu tidak dikenal luas, seperti dari Bengkulu hingga Raja Ampat.

  Sedangkan asal batu akik yang sudah dikenal lama bagi penggemar dan kolektor batu antara lain dari Sukabumi, Garut , Cilacap, Pacitan, Martapura Kalimantan. Pada tahun ’70-an sampai ’90-an yang dianggap batu lokal paling top adalah batu kecubung Kalimantan.  Di masa itu batu akik di luar Kecubung Kalimantan masih tergolong bukan batu berkelas atas, apalagi yang masih disebut batu Badar atau jenis Sulaiman., seperti sulaiman cempaka, sulaiman madu, badar asem, badar besi dan yang segolongan dengan itu. Terkadang  juga dijumpai adanya  pedagang batu mengobral akik dagangannya karena sepi peminat.  Batu yang dianggap berkelas kebanyakan batu dari luar Indonesia, seperti  batu Ruby Burma, Blue Saphire Ceylon atau Jamrud Colombia yang terlihat bening mengkristal. Di strata bawahnya ada king saphire, white saphire, black saphire, topaz, alexandre, aquamarine, nilam India.  Di luar deretan itu adalah giok China yang dianggap berasal dari fosil kayu, bukan dari batu fosil magma purba dan giok sendiri sudah tersohor sejak masa kaisar China berkuasa.

   Kolektor batu lagi-lagi di sini biasanya mengacu pada jensi batu permata yang di periode itu digunakan petinggi negara dan pembesar di pemerintahan. Namun utamanya juga melihat pada fakta bahwa mahkota para raja dan ratu di Eropa umumnya berhiaskan batu berkelas tersebut di samping berlian pastinya. Semenjak heboh akik terangkat sebagai batu permata khas lokal tampaknya maemberi efek positif, berupa munculnya para pengrajin dan penggosok batu bakal hiasan cincin dan aneka asesoris lain seperti kalung dan gelang. Di samping itu batu lokal juga dibentuk jadi berbagai hiasan menarik untuk pajangan di ruang tamu.

   Ada pengrajin seperti Galih  yang masih muda, dahulunya mencari nafkah dengan menjadi pembuat tatoo.  Sekarang menjadi anak buah pemilik lapak batu permata. Beralih menjadi pemotong dan penggosok batu dikatakan, “lebih ramai ketimbang bikin tatoo”. Para hobi batu datang silih berganti dan ada yang membawa sendiri bahan baku batu cincin, untuk minta dipotong dengan cara digerinda dan digosok halus sampai berkilap. Untuk memotong batu saja minta upah Rp 10.000,-. Kalau memperhalus batu bayarannya Rp 25.000,- Ada juga yang masang tarif menggosok batu Rp 30.000,- per batu bakal cincin. Ada lagi kisah Bang Udin yang biasanya jadi tukang parkir, karena bantuan modal dari keluarganya, ia memanfaatkan booming akik dengan menjadi juragan batu permata yang dibeli secara grosiran  dari para pengepul bahan batu akik untuk diolah jadi batu cincin atau kalung.
                                                                                ***
   

Selasa, 27 Januari 2015

PRAJURIT PANGERAN DIPENOGORO: RADEN ADIPATI RONODIKORO (EYANG RONODIKORO)

   Riwayat hidup Eyang Ronodikoro tidak banyak diketahui oleh keturunannya sendiri, yaitu anak-anaknya yang berjumlah 9 orang. Hali in dikarenakan, pertama Eyang jarang berada di rumahnya untuk berkumpul dengan keluarga. Kedua, memang tidak mau banyak bercerita tentang jati dirinya untuk melindungi diri dan keluarganya, alasannya saat itu yang ditakuti adalah "Landa Ireng" yaitu sesama orang Jawa yang suka berkhianat pada bangsa sendiri dan menjadi penjilat Belanda.  Ketiga, karena kegiatan Eyang kebanyakan jauh dari rumahnya untuk bersama beberapa temannya seringkali menyergap tentara Belanda yang tercecer dari rombongan, lalu si Belanda dijerat lehernya sedangkan mulutnya dibungkam temannya yang lain. Selanjutnya bedil (senapan),  dan sepatunya dilucuti, karena waktu itu Eyang dan temannya masih telanjang kaki, jadi butuh memiliki sepatu.

 Sedangkan bedil yang cuma punya satu peluru  berbentuk bulat di jaman itu akan digunakan untuk menembak tentara Belanda dari kejauhan sambil bersembunyi. Tetapi Eyang dan temannya tidak menembak orang Belanda yang sipil, seperti pegawai, anak-anaknya atau wanita Belanda.

   Sekelumit tentang siapa Eyang yang bernama lengkap Raden Adipati Ronodikoro berhasil diungkap melalui dialog "bathin" oleh adikku sendiri. Adikku tidak pernah belajar ilmu kebathinan atau berguru ilmu ghaib, tetapi karena karunia Tuhan dia bisa melihat arwah dan mahluk ghaib lain serta mampu berdialog bathin (telepati) dengan semua mahluk tersebut. Menurut adikku juga, penampakkan halus Eyang selalu mendampingi salah satu keturunannya yang dianggap "bersih" dan tampak bersinar tubuhnya karena sering lelaku, seperti berpuasa, mutih, pati geni dan olah prihatin lain kepada Tuhan. Dengan demikian kehadiran sosok Eyang tersebut bukan saja diketahui riwayatnya, juga memungkinkan wajah dan rupanyanya berhasil dilukis dengan bantuan seorang pelukis berdasarkan penuturan dan bimbingan adikku.

   Menurut Eyang, ia sebenarnya berasal dari Yogyakarta dan pada sekitar umur 23 tahun ikut bergabung menjadi prajurit Pangeran Dipenogoro ketika berperang melawan Belanda, yang dikenal sebagai perang Jawa pada tahun 1825-1830. Sebagai perajurit dia sering kebagian tugas merawat dan memberi pakan kuda Pangeran Dipenogoro yang berwarna putih, sedangkan menurut Eyang kuda Sentot Prawirodirjo  berwarna cokelat. Oleh Pangeran Dipenogoro, Eyang diajarkan cara bertempur dan menggunakan senjata api (bedil). Eyang selama terlibat langsung dalam pertempuran Perang Jawa, mengaku sempat ikut tinggal di goa Selarong bersama Pangeran Dipenogoro dan para prajurit maupun pengikut lainnya.

   Ketika Pangeran Dipenogoro ditangkap Belanda di Magelang akibat tipuan dan  taktik licik Jenderal Belanda, de Kock yang ingin mengakiri perang Jawa liwat jalur perundingan, Eyang bersama beberapa temannya berpencar melarikan diri ke arah Barat, sedangkan yang lain ada yang kabur ke arah Jawa Timur. Mereka para prajurit dan pengikut Pangeran Dipenogoro yang kabur dengan menaiki kudanya banyak yang tidak selamat dan tewas, karena ditembaki tentara Belanda termasuk kudanya ikut ditembak. Eyang berhasil kabur  dari sergapan Belanda lalu melarikan diri masuk ke wilayah Banyumas bersama seorang adiknya. Ketika dalam pelarian menyamar sebagai pedagang singkong dan pisang, lalu pergi dengan menumpang naik sepur (kereta api) untuk kemudian sembunyi di tempat yang dirasa aman yaitu di desa Notog, Patikraja, Purwokerrto (Keturunannya kelak beranak pinak di desa itu). Namun kemudian adiknya, Ronotunggul (Tanto) berkeras hati memilih tempat persembunyian lain di kawasan Banyumas, selanjutnya mereka tidak pernah bertemu lagi. Sedangkan dua orang kangmasnya (abang) dan ibunya kala itu diperkirakan memilih sembunyi di daerah Yogyakarta.

   Sejarah mencatat Perang Dipenogoro hanya berlangsung selama lima tahun, tetapi tidak tercatat setelah itu masih ada perlawanan kecil dan sporadis pada pasukan Belanda, dengan melibatkan sedikit orang dari sisa prajurit dan pengikut Pangeran Dipenogoro, termasuk di wilayah Banyumas mereka menyerang memakai teknik secara "Hit and Run".

   Eyang juga mengakui bahwa semasa hidupnya tekun menjalani puasa wetonan (puasa sesuai hari kelahiran sendiri berdasarkan hitungan penanggalan Jawa). Ia pernah diberi keris luk 7 oleh Pangeran Dipenogoro. Ayah Eyang Ronodikoro adalah Raden Adipati Joyoningrat, sedangkan ibunya Raden Ayu Soeparti dari daerah Tegalrejo, Yogyakarta. Kakek Eyang bernama Raden Adipati Rakadiningrat. Eyang punya 3 saudara yang kesemuanya laki-laki. yaitu Ronoradiman (Manto), Ronoprianto (Anto) dan adiknya Ronotunggul (Tanto). Menurut Eyang hubungannya dengan Pangeran Dipenogoro , karena masih eyang.

   Ketika Eyang telah tiada, semangatnya yang anti Belanda diteruskan salah satu cucunya dengan bergabung dalam pasukan Divisi Siliwangi. Dan pernah terlibat beberapa pertempuran melawan Belanda di wilayah Yogyakarta, termasuk dalam peristiwa "Serangan Oemoem" dan pernah ikut dalam peristiwa "long march Divisi Siliwangi", hingga kakinya pernah luka terkena pecahan mortir ketika ia dan teman-temannya disergap pasukan Belanda. Cucunya yang dimaksud itu adalah Mbah Soewarno K. yang pada masa kemerdekaan mendapat penghargaan piagam perang gerilya dari Bung Karno (Presiden Soekarno) dan waktu pensiun berpangkat Kolonel. Cucunya yang lain, Mbah Soeparno pernah terlibat dalam peristiwa pemberontakan di kapal Belanda, Seven Provincen di Teluk Jakarta. Keduanya ketika meninggal walaupun mempunyai hak utuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi lebih memilih dikubur di makam milik keluarga di bukit Keser, Patikraja, Purwokerto karena beranggapan ingin berkumpul lagi dengan kerabat sendiri di areal yang sama (ngumpul-ngumpulke balung pisah). *****

Minggu, 28 April 2013

KERUSUHAN 13 MEI 1998: FIRASAT DAN KENYATAAN

    Jauh hari sebelum terjadi kerusuhan pada 13 Mei 1998, aku mendapatkan "rasa" / "gambaran"/firasat/tanda-tanda (petunjuk  Illahi) atau apapun istilah yang tepat, beberapa kali yaitu antara pertengahan dan akhir tahun 1995 sampai kemudian juga memasuki tahun 1996, bahwa kelak Presiden Soeharto akan jatuh. Pada 1996 itu di "gambarkan" kejatuhannya diawali kejadian berupa gerakan bakar-membakar. Namun hal ini tidak berani aku sampaikan kepada banyak orang, kecuali kepada keluargaku saja bercerita karena khawatir bila didengar orang lain dianggap sebarkan fitnah atau kebencian kepada Kepala Negara. Mengenai "gambaran" itu pun istriku tidak percaya, dia menganggap Soeharto sudah terlalu kuat, "tidak mungkin turun" katanya, apalagi banyak pendukungnya, termasuk ABRI dibelakangnya. Malahan di tahun 1997 sewaktu diadakan Pemilu terbukti Soeharto terpilih kembali untuk berkuasa. Pada tahun setelah Soeharto dinyatakan menang, aku secara iseng bicarakan di lingkungan keluarga, mengapa orang ini masih mau berkuasa lagi? apakah terpengaruh dorongan para penjilatnya atau dukunnya tidak dapat "wisik" tentang nasib Soeharto? Atau memang Soeharto berambisi berkuasa terus lalu tidak memiliki kepekaan bathin lagi dan akhirnya tidak dapat membaca "gelagat dari langit"? Istriku dengan santai menjawab, "habis enak sih jadi Presiden, siapa yang nggak ingin terus naik".

   Di awal tahun 1996, di kantor tempat aku bekerja dalam rangkah peringatan hari kelahiran kantor, dijadwalkan ada acara silaturahmi dengan Kepala Negara. Tetapi ketika itu, aku seperti ditinggal dan tidak diajak menghadap beliau di istana, karena ada segelintir orang yang merasa sok kuasa memang sentimen padaku.dan ingin berbangga sendiri bersalaman dengan seorang Presiden. Belum tiba hari pertemuan ada beberapa teman menanyakan sebabnya aku tidak diikutsertakan, padahal dari awal kegiatan aku sudah terlibat banyak membantu untuk menyukseskan acara. Namun aku jawab, biar saja "saya tidak marah, semua memang karena sudah Tuhan atur", karena yang pergi ke istana dan bersalaman dengan Presiden, aku gambarkan (ibaratkan), sama situasinya ketika di masa Presiden Soekarno berkuasa. Mereka yang bangga menyimpan gambar Presiden, tetapi begitu jatuh mereka akan cepat-cepat menyimpan atau menyembunyikan fotonya. Beberapa hari setelah terbukti Soeharto menyatakan "lengser" dari Istana (21 Mei 1998), di kantor ada teman yang ingat ucapanku dulu, katanya "benar kata lu dulu, Pak Harto jatuh dan yang berfoto ketika salaman (dengan Pak harto) pada ngumpetin fotonya"

   Kesempatan ikut pergi ke Istana Presiden baru terjadi pada awal Februari 1998, karena orang yang sentimen padaku supaya tidak ikut, segan sendiri akibat ia dipertanyakan keadaanku oleh beberapa pengurus teras kantor tempat aku bekerja. Anehnya dalam kesempatan ini Soeharto tidak ingin bersalaman dengan para undangan yang hadir di Istana, dia hanya mau bersalaman dengan ketua rombongan. Pas mantaplah bagiku kalau begitu, aku tidak punya foto bersalaman dengan Soeharto. Apalagi foto itu kalau mau dimiliki harus ditebus mahal dari juru foto Istana, karena rombongan tamu yang masuk ke Istana tidak diperkenankan membawa tustel atau kamera.

****

   Sekilas muasal diriku. Aku merupakan canggah dari Eyang Raden Adipati Ronodikoro (dari pihak Bapak) yang semasa hidupnya menjadi prajurit Pangeran Dipenogoro. Setelah Pangeran Dipenogoro ditangkap Belanda di Magelang, Eyangku melarikan diri dan bersembunyi di hutan Notog, sekarang desa Notog, Patik Raja, Purwokerto. Menurut ceritanya yang disampaikan turun-temurun, banyak temannya yang ditangkap dan langsung ditembak Belanda. Mereka yang lari dengan menunggang kuda, kudanyapun ikut dibunuh tentara Belanda. Eyangku lari bersama adiknya, lalu dengan menyamar sebagai penjual singkong dan pisang pergi naik kereta api ke arah Barat. 

   Tak lama setelah itu Eyangku berpisah dengan adiknya,  Eyang melanjutkan hdiup di daerah Banyumas. Selama hidup di tempat baru Eyang melanjutkan aksi sendiri dibantu beberapa temannya, dia mencuri senjata Belanda. Caranya Eyang  berdua atau bertiga temannya menyergap rombongan tentara Belanda yang paling belakang, lalu dicekik lehernya dan dipukuli oleh teman-temannya. Perlengkapan serdadu Belanda yang utama diambil seperti sepatu dan bedil (senapan). Senjata ini  digunakan untuk menembaki konvoi Belanda secara sembunyi-sembunyi (istilah sekarang sniper). Namun karena kegiatan Eyang itu juga setelah menikah dengan wanita desa (Eyang Putri) yang merupakan warga setempat, dia jarang pulanng ke rumah, sehingga anak-anaknya tidak banyak mengenal dirinya. Menurut Eyang, yang juga ditakuti pada saat itu adalah "Londo ireng", maksudnya sesama orang Jawa yang bisa sewaktu-waktu mencari muka dan pujian ke orang Belanda Bule, lalu menjadi berkhianat dan membeberkan jati dirinya.

   Semasa ikut bergerilya dengan Pangeran Dipenogoro, Eyang bersama yang lainnya diajarkan menggunakan senjata dan cara menembak. Selama sembunyi di Goa Selarong, Kuda Pangeran Dipenogoro yang berwarna putih diserahkan kepada Eyang untuk dirawat dan dicarikan rumput segar untuk pakan kudanya. Sedangkan kuda tunggangan Sentot Prawirodirjo berwarna cokelat. Eyang di waktu hidupnya juga suka menjalankan puasa weton.

****

   Ketika para mahasiswa gencar melakukan aksi demo pada Mei 1998, aku sudah mengingatkan istriku untuk berhati-hati di jalan dan agar segera kabur kalau ada aksi konyol dari pendemo ataupun tindakan brutal aparat. Pada 12 Mei 1998, sempat aku meminta istriku agar tidak usah pergi ke kampus. Dia mengajar sebagai dosen di Trisakti. Tapi dia bersikeras mau tetap berangkat, dan menganggap aku menakut-nakuti saja dan memalukan kalau tidak terbukti. Akhirnya aku juga merasa tidak enak hati sendiri, barangkali gambaran yang aku terima tentang akan ada kejadian mengerikan tidak mungkin ada dan tidak terbukti. Jauh hari sebelum puncak kerusuhan aku sebenarnya sudah mendapatkan feeling gambaran akan terjadi kerusuhan ketika sedang berdoa kepada Tuhan. Hari-hari berikut ketika seperti biasa rutin berdoa, muncul lagi "gambaran" tentang akan adanya kerusuhan , di sini aku sempat bertanya dalam hati, di mana kerusuhan itu? seketika dapat jawaban: di telinga bathin, "di seluruh Indonesia". Di saat itu aku jadi berpikir, apa betul "penjelasan" itu mengingat ABRI dan pendukung Soeharto masih kuat dan setia. Apalagi Soeharto punya banyak pendamping spiritual, masa tidak ada yang waspada dan mengingatkan junjungannya ???

   Menjelang kepergian ke kampus, aku masih meminta istriku membatalkan niat pergi ke sana, tapi karena dia memaksa berangkat aku cuma pesan lagi kalau betul ada gejalah rusuh di sana dan di jalan suasana "tidak baik" langsung kabur saja. Dia pun setuju. Menjelang jam dua belas siang, istriku langsung pulanng ke rumah. Begitu sampai di rumah, pada jam dua siang dia dapat kabar dari kawannya, ada penembakan oleh aparat dengan korban sejumlah mahasiswa Trisakti. Dengan terbukti ada korban jatuh di Trisakti, malamnya aku minta istriku agar besok tidak usah berangkat ke Kampus karena diperkirakan masih ada kondisi kacau.

   Pada hari yang sama, ketika aku berada di kantor semua yang mendengar tentang aksi brutal aparat (ABRI dan Polisi) di Trisakti menganggap tidak akan sampai merambat ke kejadian besar lain dan yang biasa berdemo akan ciut hatinya lalu bisa menghentikan niatnya meminta Soeharto lengser. Kecuali aku, yang "merasa" dan yakin akan ada gelombang kerusuhan besar melanda di kota-kota di Indonesia seperti "gambaran" yang pernah aku terima. Selepas dari kantor, aku tidak langsung pulang melainkan berjalan menyusuri jalan Kebon Sirih ke arah perampatan jalan Thamrin. Di sana aku ingin melihat barangkali benar setidaknya akan ada suatu gambaran faktual atau tanda-tanda tertentu bahwa besok terjadi kerusuhan. Aku duduk di tepi jalan yang biasa digunakan orang menunggu bis umum, tampak suasana biasa saja  malam itu juga di lanngit bintang bersinar seperti sediakala, hanya ada sedikit awan tipis bergerak di angkasa.

   Ada sekitar setengah jam duduk sendiri, tiba-tiba ada pengendara motor bertanya, "Pak, di mana jalan Thamrin?" karena aku duduk di posisi jalan Kebon Sirih dekat kantor BI, maka aku tunjukkan, "itu di depan sudah jalan Thamrin". Setelah mengucap terima kasih, langsung ia tancap gas ke arah jalan dimasksud. Dalam hati aku bertanya-tanya, "masa sebagai orang Jakarta tidak tahu jalan Thamrin?"  karna jl. Thamrin termasuk jaan protokol. Beberapa menit setelah dia pergi ada lagi orang-orang yang menanyakan nama-nama jalan lain ke pedagang asongan di perampatan jalan. Mereka rata-rata tampak terburu-buru dan seperti belum tahu nama-nama tempat di Ibukota. Akhirnya begitu bis kota jurusan Tanah Abang - Tanjung Periuk muncul, aku naik dan pulang ke rumah. Sebelumnya bis jurusan yang sama telah aku abaikan, karena ingin merasakan suasana malam menjelang kerushan di pusat Jakarta esoknya.

   Pagi-pagi sekali tidak seperti biasa aku bangun lebih awal dan tidak seperti biasanya pula menghidupkan TV, berita pagi yang muncul di RCTI juga di SCTV adalah soal aksi demo mahasiswa Trisakti dan penembakan brutal oleh aparat yang memakan korban jiwa. Istriku yang sudah setuju tidak pergi ke kampus, hari itu malahan berencana pergi ke kantor Walikota Jakarta Utara untuk mengurus sertifikat rumah. Aku sudah melarangnya bepergian ke luar rumah dan aku katakan, "masih ada hari lain untuk mengurus, tidak usah maksa sekarang". Pada malam hari menjelang rusuh aku sempat meminta beberapa saudaraku untuk tidak ke luar rumah. Mereka semua berkeras tetap harus pergi ke luar seperti biasa dan mengatakan tidak ada apa-apa serta tidak mungkin terjadi rusuh. Seorang adikku malah menganggap aku aneh sendiri, dan anaknya harus tetap ke sekolah karena mau ada ulangan. Kepada iparku yang buka praktek dokter di Cengkareng, Daan mogot, aku minta istriku melarangnya pergi praktek, tetapi dijawab bahwa tidak mungkin ada kerusuhan apalagi sampai di pinggiran  Ibukota.

   Menjelang jam delapan liwat, ketika tidak mendapat "tanda-tanda baru", aku malahan juga berpikir tidak mungkin terjadi kerusuhan. Aku pun bersiap berangkat ke kantor dan pada waktu aku akan mengenakan celana panjang pantalon terdengar ucapan di telinga bathinku, "Jangan pergi". Setengah percaya dan agak ragu-ragu, aku lepas celana panjang kerja dan salin memakai baju rumah, sambil berpikir kalau petunjuk itu cuma godaan besok masuk kerja mau buat alasan apa? Karena siaran TV di masa itu masih sering melakukan siaran tunda, maka aku menghidupkan radio di gelombang radio Sonora yang biasanya menyiarkan  langsung keadaan jalanan di Ibukta Jakarta. Setelah acara musik berlalu, diisi siaran iklan lalu musik lagi dan tiba-tiba musiik dihentikan, karena masuk laporan langsung dari kawasan Cengkareng tentang serombongan orang yang menaiki beberapa truk bak terbuka tiga perempat, tidak diketahui asal muasalnya, turun kemudian menyerbu pertokoan, dan ruko-ruko, lalu mengeluarkan isi toko dan mulai aksi membakar-bakar. Polisi yang berjaga di sekitar perampatan lampu lalu lintas Cengkareng yang semula mencegah, karena kalah jumlah personil diberitakan mengundurkan diri. Dikabarkan pula oleh penyiar radio, beberapa perusuh melambai-lambaikan tangan ke arah polisi yang kabur, tak lama kemudian penyiar radio di lapangan pun menyatakan bahwa dia juga harus cepat menngundurkan diri dari lokasi tersebut karena massa sudah mulai beringas.

   Aku ingat dan khawatir keselamatan istriku yang masih di Kantor Walikota, akhirnya  hanya  berdoa di bathin agar Tuhan melindunginya. Sulit menghubungi, karena hand phone masih barang langka di masa itu. Anehnya telepon rumah tidak bisa digunakan ke luar, seperti lumpuh mendadak. Adikku yang tinggal di Cibinong beruntung bisa menelpon ke rumahku, heran!!! Dia juga mengabarkan tentang kerusuhan yang sudah sampai ke wilayah Glodok dan tempat tinggal mertuanya di jalan Pangeran Jayakarta. Aku minta dia menjadi penghubung ke saudara-saudara yang lain, karena semua telepon rumah di Jakarta tidak dapat digunakan ke luar, tapi masih bisa menerima telepon dari luar Jakarta.

   Sepulang istriku dari kantor Walikota, aku bersyukur kepada Tuhan bahwa dia selamat. Diceritakan, dia disuruh pulang oleh karyawan kantor dan mereka semua bergegas masuk ke toilet dan mengganti baju dinasnya dengan pakaian sehari-hari. Semula dia merasa heran, tetapi akhirnya ikut kabur sebab dari kantor tersebut terlihat di seberang jalan raya Yos Sudarso, seperti kantor bank Lippo sudah dihancurkan massa, begitu juga pertokoan dan Gedung Ramayana mulai dirusak massa sampai dijarah Hanya beruntung rata-rata tidak sempat dibakar, karena serombongan pasukan angkatan laut dan Marinir dari Kodamar, Tanjung Periuk datang dan membubarkan massa lalu bersama penduduk setempat menjaga lingkungan di situ. Angkatan laut juga menjaga sampai ke arah Depo Pertamina Plumpang dan beberapa hari kemudian dibantu prajurit dari Kodim.

   Menurut istriku, ketika kerusuhan itu dia terpaksa jalan kaki dari kantor Walikota Jakarta Utara sampai ke Pasar Ular Plumpang, karena sudah tidak ada angkutan umum seperti bis dan Metrro Mini. Begitu sampai di depan Pasar Ular terpaksa naik ojek motor ke rumah dan ada seorang Bapak yang tanpa menawar langsung buru-buru naik ojek. Menjelang tengah hari istriku tiba di rumah. Sewaktu ketemu teman pada hari ke tiga setelah kerusuhan, katanya sesudah liwat  jam dua siang semua orang yang melintas di Plumpang, dirampok oleh preman dan begundal jalanan yang memanfaatkan situasi kacau. Menjelang sore Ketua RT ditemani beberapa tetangga mengajak aku  bersama warga melakukan siskamling, untuk turut mengamankan komplek tempat kami tinggal. Tetapi ajakan baik itu tidak aku ikuti, karena aku sudah mendapat "petunjuk", bahwa komplek tempat aku tinggal aman dari serangan perusuh. Ini memang terbukti aman karena Tuhan Allah.

   Malam hari saat tidur nyenyak pada sekitar jam dua dini hari, adikku yang di Cibinong menelpon,. dalam keadaan masih mengantuk aku terima telepon itu. Adikku minta bantuan doa, agar semua anaknya yang masih berada di Jakarta pada jam itu juga bisa dibawa mengunngsi ke Cibinong dengan selamat. Alhamdullilah mereka selamat sampai rumah di Cibinong tanpa ada cegatan dari gerombolan, padahal meliwati sepanjang jalan yang sudah sepi kendaraan, hanya penuh bara api sisa aksi bakar-bakar kendaraan dan perangkat lainnya termasuk sarana lalu lintas yang dirusak. Sepanjang jalan menurut adikku tidak ada satupun petugas ataupun aparat keamanan, tetapi sejumlah orang yang masih lalu lalang di kegelapan tanpa penerangan jalan dengan membawa barang jarahan meninggalkan bangunan yang hancur membara atau hangus terbakar.

   Esoknya sekitar jam sepuluh pagi, aku  ditelpon teman agar pada hari itu tidak usah pergi ke kantor sampai tiga hari ke depan yang diperkirakan kerusuhan sudah mereda dan situasi normal. Tetangga yang tidak mempunyai stok simpanan makanan mulai kesulitan mendapatkan sayuran untuk lauk. Sore harinya para tetangga saling bercerita tentang keadaan mereka ketika kerusuhan berkecamuk di Ibukota. Banyak yang terpaksa menginap di kantor, tidak bernai pulang untuk menghindar dihadang perusuh atau takut dibakar mobilnya. Mereka yang bekerja di kantor pemerintah, akibat sebagian perusuh memandang pegawai negeri musuh mereka, maka bis antar jemput yang sudah ke luar kantor terpaksa diputar balik kembali masuk ke halaman kantor..

   Demikian sekelumit tentang suatu keanehan berupa "gambaran" (firasat jelas) dari Tuhan Yang Maha Tahu yang aku terima dan akhirnya menjadi fakta kejadian yaitu, berupa puncak peristiwa  kerusuhan Mei 1998, disusul berikutnya hari-hari menjelang Presiden Soeharto terbukti lengser keprabon. ****

Minggu, 14 April 2013

SANTET dalam RUU KUHP

 Oleh: Pet Parmono
Akhir-akhir ini di media massa ramai memberitakan proses memasukkan rumusan "santet" dalam konsep Rancangan Undang-undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana, termasuk mengangkat tanggapan dari berbagai pihak terutama kalangan hukum. Langkah memasukkan rumusan itu oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), antara lain dimaksudkan untuk mengkriminalisasi delik baru yang sebelumnya tidak dicantumkan dalam KUHP dan sebagai "pengaman" yang dibutuhkan khususnya bagi masyarakat pedesaan. Di lain pihak, upaya itu tentu saja dirasa aneh dan mengejutkan insan yang terbiasa berpikir rasional serta hidup di alam modern. Namun upaya untuk meng-goal-kan santet ke dalam KUHP akan membuat dukun santet pelanggannya merasa bangga pada keunggulan santet.

Santet alias "teluh" merupakan tindakan non fisik (batiniah) dan bersifat aktif menyerang orang lain dengan maksud menimbulkan kerugian atau kemalanngan berupa penyakit, bahkan kematian. Cara "penyerangan" mengandalkan kekuatan gaib tergolong "black magic". Tingkat kerugian dari aksi penyerangan terhadap oranng lain berbeda-beda, sesuai tingkat keampuhan ilmunya, dan hasil akhirnya biasanya sejalan dengan maksud serta keinginan yang telah "diprogram" pihak pelaku atau pemesan.

Akibat dari perbuatan oknum yang memiliki ilmu itu tampaknya kriminogen, namun unsur "kekuatan" meneluh itu sendiri yang dimiliki dan menjadi "sarana" oknum dukun tidaklah dapat dideteksi dengan bantuan peralatan canggih, apalagi untuk bisa diangkat sebagai "alat bukti". Dengan demikian jelas, seandainya seorang tersangka yang dianggap hobi ber-santet ria, dakwaannya akan terkesan subyektif. Kecuali untuk memperlancar jalannya acara persidangan digunakan jasa parapsikolog (occultist) sebagai konsultan dan seyogyanya dari golongan "white magic".

Sedangkan alat bantu (media) fisik yang digunakan tukang teluh bukanlah hal yang sangat istimewa, karena peralatan mereka seperti anglo, menyan, kembang aneka warna atau paso banyak dijual dipasar tradisionil. Namun barang-barang itu tidaklah dapat untuk menunjukkan ciri khas perkakas tukang santet, karena peralatan semacam itu juga digunakan oleh tukanng ramal (nujum). Padahal segi yang membedakan terletak pada "aku yakin" yang diandalkan masing-masing pemilik ilmu gaib (magic), termasuk pada aspek amalannya dan di dalam menggunakan doa-doa (mantera). Aspek ini hanya dapat "disingkap dan dibuktikan" dengan cara khusus pula oleh orang memiliki kepekaan batiniah.

Perkembangannya

Di bumi Nusantara, santet pada masing-masing daerah mendapat julukan berbeda. Kehadiran ilmu hitam ini sudah sangat tua. Ada yang mengira telah lama dipraktekkan sejak masa kerajaan Singosari di Jawa Timur, seperti dalam cerita Calon Arang Tetapi ada juga yang menduga, santet sudah lama lahir sebelum berdirinya kerajaan itu. Hingga sekarang masih terdapat penerus ilmu tersebut, walaupun sudah mengalami "modifikasi" dari gernerasi sebelumnya, seperti mengutip ayat-ayat tertentu dari sebuah kepercayaan agama dalam doa/mantranya.

Dengan masuk dan menyebarnya agama baru ke bumi nusantara yang sangat menekankan pada aspek keimanan dan ketaqwaan kepada yang Illahi, eksistensi juru santet tidak serta merta terkikis binasa dan makin terpojok. Namun sampai kini di daerah tertentu masih bercokol adanya "wilayah kantong" tempat praktek tukang santet, baik di kota besar maupun pedesaan.

Lagenda tentang ilmu gaib ini menyangkut kisah "kedahsyatannya" untuk mencelakakan sesama manusia dari jauh (telepatis) terlanjur berurat berakar . Tidaklah aneh kala masyarakat terutama di pedesaan mudah trmakan isu santet dan dianggap sebagai "momok", karena itu apabila ada salah seorang keluarganya atau warga desanya sakit bahkan meninggal - sekalipun secara wajar - masyarakat tetap meduga kejadian itu akibat diteluh. Setelah itu biasanya dicari seorang warga yang dianggap patas dijadikan sebagai "kambing hitam" tukang telah untuk "dihakimi" sendiri, apalagi bila aparat keamanan tidak mampu cepat menangani kasus demikian.Rumor jatuhnya korban "akibat" keganasan peneluh, sebenarnya juga menantang tenaga medis dengan kecanggihan perlengkapan laboratoris untuk membuktikan kebenaran korban yang diisukan sakit disantet.

"Keampuhan" telu/santet sebagai produk ilmu hitam yang sering harus diraih dengan berat seperti dengan melakukan puasa/mati raga oleh penuntutnya dalam rangka menempa "power" bathin agar dapat berkolaborasi dengan mahluk astral golongan setan/jin. Kedigdayaan yang diperoleh dianggap sesuai juga dengan watak masyarakat di sini yang ingin "membereskan" masalah secara halus mulus, tanpa sosok fisik harus hadir dihadapan lawannya. Tetapi ada pula yang berpendapat, menyantet bukan merupakan tindakan "gentleman".

Namun demikian, "pasien" yang berhubungan dengan juru santet/teluh tampaknya terbagi dua. Yaitu, orang yang sudah mengetahui  jelas kemampuan sang dukun dan yang belum mengatahui jenis ilmunya si dukun. Di sini pasien yang maksudnya mau berobat, tetapi malahan disugestikan bahwa sakitnya akibat "dikerjai" si Anu, lalu ditawari untuk "membalas" menyantet si Anu. Begitu juga bagi orang yang ingin menuntut belajar ilmu ghoib, terbagi juga dalam yang sengaja berguru ilmu hitam alias santet dan yang tidak sengaja karena tidak tahu jenis ilmu calon gurunya. Biasanya seorang guru santet  hanya tersamar membeberkan khasiat ilmunya salain menjelaskan persyaratan kepada sang murid ketika berguru. Bila sudah dianggap "lulus", seorang murid yang pada dasarnya tidak memiliki watak kejam dan beringas, di  kemudian hari akan berangsur-angsur "membuang" ilmunya. Sebaliknya seorang murid yang dasarnya berbakat kejam, terhadap gurunya pun akan "dikerjai", untuk mencoba keampuhan ilmunya atau agar tidak ada persaingan. Karenanya, seorang guru yang waspada tidak akan tergesa-gesa menurunkan seluruh rahasia ilmunya, sampai ia mengetahui tabiat dan kesetiaan muridnya.

Ciri Umum Teluh/Santet

Aspek yang lazim dari ilmu kuno warisan jaman "baheula" dalam hal "menngamalkan" kesaktiannya umumnya memilih pada malam hari. Begitu juga untuk tujuan "pembaptisan" calon murid akan ditentukan pada malam yang dianggap keramat, seperti malam Jumat Kliwon.

Dipilih malam hari, karena suasana tenang dan sepi atau selepas tenngah malam hingga menjelang subuh dianggap membantu memusatkan konsentrasi dan dalam hal mengerahkan mahluk halus sekutunya. Selain itu, untuk memudahkan aksi khas "penggempuran" secara telepatis kepada sasaran pilihannya yang dianggap saat itu sedang asyik terlena diperaduannya.

Korban yang ditargetkan direnggut nyawanya oleh setan kiriman tukang santet, biasanya di atas atap rumahnya atau halaman rumahnya akan terdengar seperti suara ledakan mercon atau ban gembes. lalu sang korban akan merasa meriding, atau menggigil atau rasa tercekik tiba-tiba. Tetapi korban yang hanya diupayakan dibikin sakit, akan merasakan tidak enak di bagian tubuh tertentu dan mendadak seperti demam.

Keadaan si korban kiranya nihil diobati secara medis, seandainya juru santet/telh yang berkolaborasi dengan jin atau roh tergolong setan bertemperamen galak, maka hasilnya kerjanya pun ganas. Terbilang dari saat itu juga tau dalam hitungan hari, jika korban tidak tertolong oleh ahli kebatinan yang berkualitas, korban bisa meninggal tanpa dikatahui sebab-sebabnya dengan pasti oleh keluarganya.

Taktik lain menghantam seseorang secara telepatis oleh juru tenung/santet sebenarnya masih banyak ragamnya, antara lain dengan cara menusuk-nusuk boneka yang diimajinasikan tubuh korbannya atau menerawang melalui foto korbannya. Cara lain yang tingkatannya tergolong rendah adalah dengan mengirim benda-benda yang telah "diisi" khasiat mistik atau berupa media makanan yang sudah dirajah atau dimantera untuk dikirim ke korbannya melalui sang pasien sendiri atau perantara kurir.

Tantangan bagi Pemuka Agama

Dalam pada itu, walaupun sekarang ajaran agama dipandang sudah berkembang baik tetapi cara "membunuh" seperti santet tersebut masih sering terdengar termasuk di kota-kota besar. Namun jika pada suatu hari maut menimpa tepat pada korbannya akibat santet, hasilnya akan dinikmati dan merupakan kebanggan tersendiri bagi juru teluh/santet. Mereka ini seringkali tetap tercatat sebagai seorang warga terhormat di wilayah tempat tinggalnya dan tampak seperti "rajin" melaksanakan kewajiban agama dan sosial bermasyarakat.

Di lain pihak sesungguhnya keberadaan juru santet/teluh merupakan tantangan tersndiri bagi para pemuka dan tokoh agama, terutama dalam segi kemampuan membimbing dan menguatkan iman umatnya agar "kebal" dari serangan santet sekaligus menjadi anti kepada juru santet/teluh. Karena santet sebagai hasil kerja ilmu hitam yang kotor bantuan setan tidak akan mempan menghantam orang yang beriman kuat dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan tidak akan membiarkan orang yang beriman kepadaNya mati sia-sia di tangan iblis.

Peranan pemuka dan tokoh agama dengan demikian lebih cocok dan ampuh, ketimbang menjangkau tukang santet dengan perangkat hukum. Sehingga regenerasi di kalangan dunia ilmu hitam dapat diminimalisir dan ilmu itu sendiri akan menjadi langka. Selain itu pemuka agama juga harus berperan mengingatkan kaum muda agar lebih gandrung untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang jelas lebih berguna bagi kehidupannya di masa depan.****


(tulisan ini pernah dimuat di Harian Umum "ANGKATAN BERSENJATA", Jumat, 15 Oktober 1993)




Sabtu, 26 Januari 2013

Dimanapun kita berada, Mari Berbatik

  Di tahun 2002 yang lalu, aku mendapat undangan  dari Lembaga Human Rights, yang bermarkas di  Amerika. Aku ditempatkan di sebuah kota hijau Phyladelpia, kota yang besih, tertib dan tenang, banyak bangunan tua dan pohon yang tumbuh serta terjaga di sana. Di Negara Paman Sam ini, aku belajar banyak hal, terlebih dengan bersosialisasi dengan para undangan dari berbagai negara, mempelajari gaya  kehidupan, budaya yang ada. Namun tentunya tidak serta-merta aku menerima budaya yang ada di sana. Bagiku prinsip tetap terjaga, budaya dan agama yang aku pegang selalu kujadikan filter untuk menyaring berbagai hal yang bersinggungan.

Menjaga nama baik Indonesia tentunya, adalah poin yang senantiasa aku indahkan. Dapat  undangan untuk mengikuti program ini bukanlah hal yang mudah untuk di dapatkan. Maka, kumanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada. Ada satu hal yang kemudian membuat aku merasa Indonesia. Iya aku menjadi Indonesia dan merasa bangga di sebut Indonesia. Yakni kekayaan yang di miliki Indonesia, dari hasil kebudayaan yang ada. Mereka sendiri yang menyebutkan tentang batik yang saat itu kukenakan, setelah kujelaskan beberapa hal yang menarik tentang masyarakat yang ada di Indonesia.

Karena aku satu-satunya delegasi yang berbatik berasal dari Indonesia, akhirnya mengalirlah pertanyaan-pertanyaan  seputar batik. Aku berusaha memperkenalkan sedikit demi sedikit, pengetahuan tentang batik yang kumiliki, yang kurasakan tidak cukup baik, di tambah juga aku bukanlah putra pariwisata, maka siasat yang aku lakukan adalah dengan bekal browsing di internet saat itu aku bisa menjelaskan sedikit demi sedikit. Maklumlah aku tidak siap karena kedatanganku di undang dalam rangka membicarakan penegakan hak asasi manusia bukan tentang batik. Akhirnya, aku bisa dengan mudah meyakinkan mereka bahwa Indonesia benar-benar negara kaya akan batik

***

Yang aku jelaskan pada awalnya adalah arti batik dan tradisi membatiknya.

Batik adalah cat atau gambar (pada kriya/kain) dengan pembuatan secara khusus baik penulisan maupun pengolahannya. Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun-temurun sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenal berasal dari batik keluarga tertentu. Motif batik sendiri dibentuk dengan cairan lilin yang menggunakan alat bernama canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar.
(Menurut kamus besar Bahasa Indonesia)

Dengan semangatnya, kubuka internet lebih lanjut serta kujelaskan sambil sedikit membaca dan melirik laptopku yang terbuka mengenai situs macam-macam batik yang terdapat di Indonesia, seperti :

1.    Batik Keraton
     
Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya motifnya terlarang untuk digunakan oleh orang “biasa” seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris.

2.   Batik Sudagaran

Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

3.   Batik Petani

Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan  tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan.


4.   Batik  Belanda
Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana. 



5.    Batik Jawa Hokokai


Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) .

(Sumber :
Berbagai Macam Batik di Indonesia)

***
Di dalam pembicaraan batik bersama para kolega asing tersebut, mereka juga antusias ketika sampai penjelasan ke peralatan batik, yang terdiri dari soga, lerak, canting, malam, dan Akar wangi, rasa ingin tahu mereka luar biasa, hanya sayangnya gambar-gambar peralatan batik tidak ada di situs, bahkan aku jelaskan untuk mengetahui, datang saja ke Indonesia, di sana ada Museum Batik Yogyakarta, Museum Batik Danar Hadi, Museum Ullen Sentalu. Serta aku jelaskan pusat batik  yang bisa mereka datangin, apabila mereka datang ke Indonesia, untuk belanja batik secara langsung serta memiliki batik sesuai selera ataupun ingin mendesain sendiri juga bisa, seperti di Kampung batik Laweyan, Kampung Batik Trusmi, Pasar Beringharjo, Pasar Kliwon, Surakarta. Hanya sayangnya pada saat itu belum ada belanja batik secara online, seperti di batik online.

Dibalik bentuknya yang unik menarik, batik menyimpan sejarah warisan budaya leluhur dalam perjalananannya yang panjang untuk mencapai bentuknya kini dengan berbagai motif dan corak serta sarat makna. Bahkan batik sekarang sudah mendunia  untuk di pakai sehari-haripun nyaman di tubuh kita, apalagi warnanya bagus-bagus, serta harganyanya banyak yang terjangkau. Batik memang terbaik, buktinya sejak tahun 2009 batik telah diakui dunia internasional, dunia mengakui batik yang merupakan salah satu warisan budaya dari Indonesia. Pengakuan serta penghargaan itu disampaikan secara resmi oleh United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO)  pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Mengacu pada pengakuan dan penghargaan tersebut, memang kita sebagai bangsa harus bangga dan mungkin juga sudah seharusnya memakai nya dalam berbagai kesempatan, karena memiliki kebudayaan yang luar biasa ini.

***
Akhirnya kebersamaan selama hampir tiga bulan dengan rekan seperjuangan di Human Rights tidak hanya berbicara topik kemanusiaan saja, ternyata sudah masuk ke rana  budaya  turun temurun bangsa Indonesia yaitu tentang  batik. Dan selanjutnya, mereka berjanji  suatu saat akan berkunjung ke Indonesia, untuk belanja ke tempat pusat  pembuatan batik, ke toko batik ataupun butik batik. Dan aku akan siap menemani mereka, demi kebersamaan yang telah kami jalankan bersama.
Harus diakui bahwa  batik-batik nusantara sangatlah elok rupawan, Marilah kita jaga semua kekayaan yang ada di negeri kita. Jangan sampai timbul lagi masalah yang sama seperti masalah Malaysia menghakpatenkan kekayan bangsa kita untuk negaranya. Mari kita lestarikan semua kekayaan di negeri kita dan seperti slogan yang telah dikumandangkan ke seluruh Indonesia, Aku bangga dengan produk Indonesia..***